Home Home RESENSI BUKU
Home
RESENSI BUKU

Judul              : Pesantren Hasan Jufri Menatap masa Depan
Penulis            : Dr. Syahrul Adam
Hal                 : 96
Lampiran         : Nadzam Tauhid berbahasa Bawean
Peresensi        : Ali Asyhar

Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua dan asli Indonesia. Konon
konsep pesantren meniru Ashab al- Suffah yaitu para sahabat muhajirin
yang tinggal di emperan masjid Nabawi sembari mengikuti pengajian
Kanjeng Nabi SAW.

Kata “ santri” menurut John yang dikutip oleh Zamakhsyari Dhofir (
1984: 18) berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji.
Sedangkan Berg dalam buku yang sama berpendapat bahawa kata santri
berasal dari kata Shastri dalam bahasa India yang berarti orang yang
tahu buku suci agama Hindu, atau sarjana ahli kitab suci agama Hindu.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata santri diartikan orang yang
mendalami agama islam. Sedangkan pesantren merupakan kata jadian dari
kata santri dengan awalan “pe” dan akhiran “an” diartikan sebagai
tempat untuk tinggal dan belajar santri. Dari pengertian tersebut
Zamakhsyari Dhofir menyebutkan ada lima unsur pokok pesantren yaitu
Kyai, santri, pondok, masjid/mushala dan kitab-kitab klasik.

Pesantren tertua di Indonesia adalah pesantren Tegalsari Ponorogo yang
didirikan tahun 1742, tetapi survey Belanda tahun 1819 mengesankan
bahwa pesantren itu belum seperti pesantren yang sebenarnya.
Dilaporkan bahwa lembaga-lembaga pendidikan yang mirip pesantren sudah
ada di Priangan, Pekalongan, Rembang, Kedu, Surabaya, Madiun dan
Ponorogo. Menurut Nurcholis Madjid penjajahan yang terjadi di
Indonesia telah mengubah pertumbuhan sitem pendidikan di Indonesia.
Seandainya tidak ada penjajahan mungkin yang muncul bukanlah UI, ITB,
UGM atau yang lainnya tetapi namanya mungkin  Universitas Termas,
Krapyak, Bangkalan, Tebuireng, Sidogiri, Lasem dan seterusnya.

Cikal bakal Pesantren Hasan Jufri dimulai saat KH. Hasan Jufri pulang
dari pesantren. Ia termasuk santri kelana sebagaimana ulama-ulama yang
lain. Mulanya ia nyantri di Termas selama tiga tahun. Kemudian
melanjutkan pengembaraanya di Tebuireng dibawah asuhan Hadratussyekh
Hasyim Asy’ari. Tidak lama kemudian ia pindah ke pesantren Panji
Buduran dan mengakhirinya di pesantren Sidogiri. Di Sidogiri Hasan
Jufri belajar selama 17 tahun dan sangat akrab dengan putra-putranya
pengasuh seperti Kyai Abdul Jalil, Kyai Khalil dan Kyai Abdul Adhim.
Ia dijuluki macan dari Bawean karena kecerdasan dan keberaniannya.

KH.Hasan Jufri memulai pengajiannya di rumahnya, Lebak. Selanjutnya ia
memindahkan pengajiannya di Keboangung. Suaranya yang merdu menambah
animo masyarakat untuk mendengarkan petuah-petuahnya sehingga namanya
terkenal se Bawean dan santrinya berdatangan dari berbagai penjuru.
Saat itu belum ada nama pesantrennya sebab pengajiannya difokuskan di
mushala dan santrinya masih santri kalong yaitu santri pulang-pergi.
KH. Hasan Jufri meninggal tahun 1940-an dengan meninggalkan seorang
putra, Baharudin yang masih berusia 6 tahun. Pengajian dilanjutkan
oleh keponakannya yaitu KH. Yusuf Zuhri.

Pada era Kyai Yusuf Zuhri pengajian lebih dominan al-Qur’an karena
beliau adalah seorang Hafidz. Yusuf adalah santri KH.Munawir Krapyak
Yogyakarta. Selepas dari Krapyak ia nyantri di Sidogiri selama 7
tahun. Kurang lebih 40 tahun Kyai Yusuf Zuhri mengasuh pesantren
sampai beliau berpulang tahun 1981. Beliau meninggalkan 11 putra-putri
dan salah seorang putranya yakni KH.Bajuri Yusuf menggantikannya
mengasuh pesantren hingga saat ini.

Pada periode ke tiga inilah pesantren Hasan Jufri mengalami
perkembangan yang signifikan. Jumlah santri terus bertambah dan mulai
dibuka sekolah formal. Awalnya adalah Madrasah Tsanawiyah pada tahun
1983 dengan 86 murid. Kepercayaan masyarakat yang tinggi menuntut
untuk dibuka Madarasah Aliyah pada tahun 1986. Muridnya adalah lulusan
dari Madarasah Tsanawiyah Hasan Jufri. Saat ini jumlah siswa MTs Hasan
Jufri lebih dari 500 siswa dan membuka kelas Internasional ( ICP).
Sedangkan MA Hasan Jufri jumlah siswa lebih dari 300 siswa dengan 3
program yaitu IPS, IPA dan MAK. Kedepan direncanakan untuk
melengkapinya dengan program bahasa.

Pada tahun 2010 ini dibuka perguruan Tinggi pertama di Bawean yang
legal yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam Hasan Jufri ( STAIHA) Bawean
dengan SK dari Dirjend pendidikan Islam Kementrian Agama RI nomor :
Dj.I/347A/2010.

Sebagai penulis, Syahrul Adam memulai tulisannya tentang pesantren
secara umum dan hal yang terkait dengannya. Selanjutnya ia memaparkan
biografi singkat pendiri dan penerus  yakni KH. Hasan Jufri, KH.Yusuf
Zuhri dan KH.Bajuri Yusuf. Perkembangan Pesantren Hasan Jufri
dielaborasi cukup menarik dan akurat dengan data-data terbaru. Dan
Syahrul mengakhiri tulisannya dengan makna lambang pesantren Hasan
Jufri. Menariknya dalam buku ini juga dilampirkan Nadzam Tauhid
berbahasa Bawean karya KH.Hasan Jufri.

Sebagai alumni Syahrul Adam patut diacungi jempol karena telah
berikhtiar dengan menyumbangkan tenaga dan pikirannya demi kebaikan
almamater. Jazakumullah Ahsanal Jaza.

Terakhir Diperbaharui (Selasa, 30 November 2010 19:31)