Social Items


Contoh Simpel Tentang Jama' dan Qashar Bagi Seorang Musafir

HASAN JUFRI - Seorang mahasiswi yang kuliah di Yogyakarta pulang ke rumahnya di kota Semarang selama 3 hari, apakah dia boleh meng-qashar, secara jarak antara Jogja dan Semarang adalah masafah qashar?

Selama di perjalanan maka dia boleh jamak dan qashr, tapi ketika sampai di kampungnya, dia terhitung mukim bukan musafir lagi kendati disana hanya tiga hari, artinya rukhsah (keringanan) untuk jamak dan qashr tidak berlaku lagi.

Lalu, jika seorang musafir safar thowil (perjalanan panjang), di tengah jalan membatalkan niat safarnya dan ingin kembali pulang, apakah kebolehan qashar masih berlaku baginya?

Jika jarak antara lokasi dimana dia membatalkan niat dan rumahnya belum mencapai masafah qashr, maka seketika statusnya berubah menjadi mukim, namun jika perjalanannya sudah jauh hingga mencapai masafah qashar, maka dia tetap terhitung musafir hingga sampai ke tempat asalnya.



Contoh Simpel Tentang Jama' dan Qashar Bagi Seorang Musafir


Hasan Jufri - Wahai anakku, andai ilmu saja cukup bagimu tanpa amal, maka seruan Allah ;

هل من سائل ، هل من مستغفر، هل من تائب 
Adakah yang meminta, adakah yang beristighfar , adakah yang bertaubat,
Akan hilang tanpa faedah.

Di ceritakan bahwa sebagian sahabat - radiyallahu anhum- menyebut-nyebut Sayyidina Abdullah bin Umar bin Khottob di hadapan Rasulullah; dia adalah sebaik-baiknya pemuda saat ia sholat malam.

Rasulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam memberi nasehat pada salah seorang sahabatnya; "Wahai fulan, janganlah perbanyak tidur di malam hari, karena itu menjadi faktor kemiskinan kelak di hari kiamat"

Wahai anakku, firman allah ; 
ومن الليل فتهجد به 
Adalah suatu perintah
وبالأسحار هم يستغفرون
Adalah sebuah ungkapan syukur
والمستغفرين بالأسحار
Adalah sebuah dzikir.

Rasulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam bersabda; "Tiga suara yang Allah cinta":
1. Suara ayam yang berkokok
2. Suara orang yang membaca Al Qur'an
3. Suara orang yang meminta ampun di waktu sahur

Sayyidina Sufyan at-tsaury - rahimahullah- berkata; Sesungguhnya Allah menciptakan angin sepoi yang berhembus di waktu sahur, yang membawa dzikir dan istighfar kepadaNya saat datang awal malam, seorang penyeru menyerukan; wahai para ahli ibadah bangunlah, kemudian mereka bangun dan beribadah saat datang pertengahan malam, diserukan ; wahai orang-orang yang taat, bangun lah, kemudian mereka bangun dan beribadah sampai datang waktu sahur, saat datang waktu sahur, diserukan ; wahai orang-orang yang meminta ampun, bangunlah, maka merekapun bangun dan meminta ampun pada Allah, dan saat fajar terbit, diserukan ; wahai orang-orang yang lalai, bangunlah, maka merekapun bangun dari kasur mereka seperti mayat yang di bangkitkan dari kuburnya.


Bersambung ...

Wahai Anakku-Gus Zah Faid, Bagian 6


Hasan Jufri - Bulan Maulid (Molod) telah tiba. Bulan kelahiran Nabi agung akhir zaman. Barang siapa yang bergembira dengan datangnya bulan ini, maka ada keberkahan baginya. Di banyak tempat digelar pembacaan sirah Nabi (al-Barzanji, ad-Dzibai, Burdah, Simtut Dhurar, Syaraful Anam, dll) diselingi nasehat-nasehat dari para dai tentang keteladanan dan kemuliaan Nabi SAW. Berbagai hidangan disuguhkan untuk melengkapi rasa suka cita tersebut. 

Di Pulau Bawean ada tradisi unik yakni membawa angkaan. Aneka bentuk dan isinya biasanya dimusyawarahkan. Pada hari pelaksanaan, semuanya mendapatkan bagian. Membawa satu, pulang dapat satu. Di luar Pulau Bawean, belum ditemukan tradisi membawa angkaan. Biasanya mereka makan bersama dan pulang membawa oleh-oleh ala kadarnya. 

Ada beragam kisah tentang angkaan ini. Mulai dari yang positif sampai negatif. Kisah positif itu antara lain: tradisi angkaan ini ternyata menarik hati para wisatawan. Mereka mengabadikan kegiatan molod di Bawean dan diceritakan ke pelbagai penjuru. Bahkan, mereka juga membawa angkaan ke luar Bawean. 

Kisah negatifnya adalah kasak-kusuk seputar angkaan. Sebagian orang mempermasalahkan bagian yang ia terima. Ia merasa rugi karena bagiannya lebih kecil dari angkaan yang ia bawa. 

Kenapa ini terjadi? Karena niat yang salah. Membawa angkaan diniati berdagang. Tentu yang diharapkan adalah keuntungan. Ketika rugi maka panitianya yang menjadi sasaran. Pertanyaan selanjutnya, kenapa niatnya banyak yang salah? Karena zaman ini adalah zaman bendawi. Semuanya diukur dengan benda dan materi. 

Adakah solusi? Tentu ada. Yakni, para dai dan panitia tak bosan-bosannya mengingatkan bahwa niat membawa angkaan adalah bergembira atas lahirnya Nabi pemberi syafaat. Nabi yang menerangi dunia dengan cahaya ilmu dan peradaban. Kegembiraan atas datangnya petunjuk ini tentu tidak sebanding dengan angkaan yang kita bawa. 

Nasehat yang tidak sambung dengan logika kapitalisme memang sering mental. Orang yang pikirannya penuh dengan materi, maka sulit mencerna tentang syafaat, keberkahan dan hal-hal yang tidak tampak oleh panca indera. Mereka memuja angka dan benda secara berlebihan. Pikiran ini adalah buah dari propaganda Marxisme dan Darwinisme. Marxisme mencitakan dunia tanpa kelas. Sampai hari ini mimpi itu tidak pernah kesampaian. Sedangkan Darwinisme menyodorkan teori bahwa untuk bisa hidup eksis maka harus menginjak orang lain. 

Islam datang menolak keduanya. Islam menegaskan bahwa ragamnya kelas, kelompok, etnis bahkan agama adalah ketetapan Allah (sunnatullah). Harmoni akan tercipta bila mereka saling mengenal dan mengasihi. Si kaya menyayangi si miskin dan si miskin menghormati yang kaya. Saling mengulurkan tangan dan mendoakan yang baik. Islam tidak pernah meninggikan derajat seseorang karena warna kulit, bentuk hidung dan rambut, suku, kelompok dan aksesoris yang lain. Kemuliaan seseorang dihasilkan dari perilaku dan keimanannya (taqwa). Dari itu, tanggalkan niat berdagang ketika membawa angkaan. 

Tulisan: Gus Ali Asyhar, M. Pd.I

Gus Ali Asyhar: "Membawa Angka'an Jangan Diniati Berdagang"