Hasan Jufri - Biografi ringkas KH Bajuri Yusuf (Pendiri Yayasan Ponpes Hasan Jufri Bawean) lahir tahun 1950 dan wafat tahun 2014.

Biografi ringkas ini ditulis dengan tujuan untuk menghubungkan dan mencari teman-teman seangkatan beliau, atau keluarga teman-teman beliau dulu yang sama-sama belajar di Pondok Krapyak Yogyakarta dari tahun 1966-1975, sebelum KH Bajuri Yusuf berangkat melanjutkan pendidikan ke Makah dan Baghdad.

KH. Bajuri Yusuf dilahirkan di Lebak Sangkapura Pulau Bawean Gresik Jawa Timur pada 20 Maret 1950 dari pasangan Kiyai Yusuf Zuhri dengan Nyai Muthiyah. Ketika memasuki usia sekolah Kiyai Bajuri kecil belajar di Sekolah Rakyat (SR) pada pagi hari sekaligus merangkap di MWB NU (Madrasah Wajib Belajar Nahdlatul Ulama) pada sore hari. 

Pada tahun 1964/1965 beliau mendapat tugas belajar PPUPAN (Pendidikan Pengadilan Urusan Pengadilan Agama) ke Kediri dari Departemen Agama (Ikatan Dinas). Tugas belajar ini tidak sampai terselesaikan sebab segera meletus peristiwa G 30S/PKI tahun 1965. Akhirnya, Kiyai Bajuri pindah ke Krapyak Yogyakarta tahun 1966 untuk meneruskan pendidikannya di Pesantren yang diasuh oleh Kiyai Ali Ma'sum.

Setelah menamatkan sekolah formal di Pesantren tersebut, atas anjuran pengasuh, Kiyai Bajuri melanjutkan pendidikan formalnya ke Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijogo. Kuliah itu dijalaninya dari Pesantren, sebab kala itu ia sudah dilantik menjadi pengurus Pesantren dari tahun 1971-1975. Sayangnya sebelum dapat menamatkan kuliahnya ke doktoral II (Drs) , tahun 1975 ia pergi ke Timur Tengah tepatnya di Makkah al Mukarromah karena mendapatkan beasiswa belajar ke Darul Hadis.
Setelah kurang lebih 1 tahun 6 bulan, tepatnya tahun 1976, ia mendapatkan panggilan belajar di salah satu Universitas ternama di kota Baghdad, yakni Perguruan Tinggi Imam al A'dham yang tahun 1979 dilebur dengan Universitas Baghdad. Kiyai Bajuri kali ini kuliah di Fakultas Syariah. Setelah merampungkan kuliah sarjananya tahun 1980 dengan menyandang titel LISS, ia kembali lagi ke Mekah dan mendaftar pada Program Pascasarjana (S-2) di Universitas Madinah. Sewaktu menunggu penerimaan mahasiswa baru di Universitas Madinah tersebut, Kiyai Bajuri tiba-tiba diminta pulang ke Bawean oleh keluarganya sebab berangkat ke Timteng belum pernah pulang ke Bawean.

Kepulangannya yang pada awalnya hanya direncanakan dalam waktu sebentar, ternyata harus dilakukan selamanya, sebab baru 3 minggu di tanah kelahirannya Bawean, ayahnya KH Yusuf Zuhri berpulang ke rahmatullah. Sebelum ayahnya meninggal, beliau sempat memberi isyarat dengan ikut menata kitab-kitab Kiyai Bajuri yang dibawanya dari Baghdad yang belum tersusun rapi. Ia akhirnya diminta oleh keluarga untuk melanjutkan Pesantren yang telah dirintis oleh ayahnya dan pendahulunya. Demi mengemban amanah itu, Kiyai Bajuri rela membatalkan berkas pendaftaran pendidikan S2 nya di Universitas Madinah.

Banyak orang berkata, seandainya Kiyai Bajuri tetap melanjutkan pendidikannya, dan pulang serta menetap di Jakarta, maka boleh jadi ia sekarang menjadi ilmuwan tingkat nasional, sebab teman-teman seangkatannya beliau seperti Prof Dr Muslim Nasution, Kiyai Haji Muhit Abdul Fattah, Bapak Masdar F. Masudi, KH Said Aqil Siraj, Prof Dr Ali Mustafa Ya'kub, Dr. Ahsin Sakho dan lain-lain, tercatat sebagai ilmuwan berskala nasional. Tetapi itulah mungkin pengorbanan terbesar Kiyai Bajuri Yusuf yang patut diacungi jempol yaitu dengan mengorbankan cita-citanya dan mengabdikan ilmunya di kampung halamannnya di Pulau Bawean, di sebuah Pulau yang terisolir dan tidak terlalu dilirik/dihiraukan pada masa orde baru.

Selama belajar Kiyai Bajuri Yusuf juga aktif diberbagai organisasi. Misalnya pada tahun 1970 di Pondok Krapyak dibaiat menjadi kordinator keamanan karena terkenal disiplin dan keberaniannya, maklumlah ia berdarah Bawean yang terkenal lihai dengan pencak silat. Tahun 1971 ia ditunjuk menjadi Ketua Dewan Pengurus Pondok Pesantren. Adapun pengalaman organisasinya beliau diantaranya aktif di Gerakan Pemuda Anshor DIY 1970-1973 sebagai wakil ketua, dan aktif di organisasi PPMI dan IPNU. Bahkan ketika kuliah di Baghdad juga pernah menjadi wakil ketua PPI untuk wilayah Iraq pada periode 1978-1979.

Sepulangnya dari Baghdad, selain mengurus Pesantren, beliau juga aktif mengurus PCNU Bawean, mulai dari pengurus bidang dakwah, menjadi Rais Syuriah selama 3 periode dan terakhir menjadi Mustasyar.

Banyak usaha yang telah beliau lakukan selama jadi pengurus NU, diantaranya pembangunan sarana perkantoran dan balai pengobatan, serta pembenahan-pembenahan lainnya terkait dengan pembinaaan organisasi.

Pada tahun 1998, ketikan NU mendirikan partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang dimotori oleh KH Abdurrahman Wahid, Kiyai Bajuri Yusuf ikut terjun langsung dalam membidani berdirinya PKB di Bawean, bahkan berhasil mengantarkan PKB menjadi satu-satunya partai yang menang mutlak di Bawean.

Tetapi setelah melihat gonjang ganjing politik yang kian hari kian tidak menentu bagaikan lingkaran setan yang tidak ketemu ujung pangkalnya, akhirnya tahun 2002 beliau mengundurkan diri dari campur tangannya di partai politik, beliau kembali fokus kepengembangan Pondok yang beliau asuh sambil tetap menjadi anggota Mustasyar di PCNU Bawean.

Biografi ini disadur dari buku "Pesantren Hasan Jufri Menatap Masa Depan", dan buku "Pesantren Hasan Jufri Dari Masa Ke Masa".

KH. Bajuri Yusuf, Biografi dan Riwayat Pendidikan


Fiqih Seputar Persusuan (Rodho')

Rukun rodho'
1. Murdhi' /wanita yang menyusui (مرضع)
2. Rodhi'/anak yang disusui (رضيع)
3. Laban/ASI (لبن)

Syarat Murdhi'
- harus wanita, bukan pria, atau khuntsa atau hewan.
- usia minimal 9 tahun kurang 15 hari (qamariyah taqribiyah)
- ketika menyusui tidak dalam kondisi sekarat.
 
Syarat Rodhi'
- kondisi hidup dan tidak sekarat
- usia di bawah dua tahun
- disusui sebanyak 5 susuan (bukan isapan) dan berjarak.
- ASI nya dipastikan masuk ke dalam perut.

Jika syarat rukunnya terpenuhi maka :
1. Ushul (ayah,kakek dan seterusnya) dan furu' (keturunan) dari murdhi' menjadi mahram bagi rodhi'
2. Ushul dan furu' sohib laban menjadi mahram juga.
3. Hawasyi (saudara dan paman) dari keduanya juga menjadi mahram bagi rodhi'
4. Keturunan rodhi' menjadi mahram bagi mereka.

Siapa sohib laban itu?
Dia adalah orang yang menjadi sebab keluarnya ASI seorang wanita dengan sah, hal itu terjadi jika si wanita mengandung dan atau memiliki anak darinya.

Lalu siapa dia?
Bisa suami atau mantan suami atau wathi' dengan syubhah, atau wathi' budak sahaya.

Wallahu A'lam ...

Tulisan: Neng Ainun Barakah
Foto Ilustrasi: Aisyah Hanan (Putri beliau)

Seputar A-Radha' (Persusuan)



"Wahai Anakku" (Bagian 2)

Wahai anakku, jangan jadikan dirimu sebagai orang yang rugi dalam beramal, dan kosong jiwa raganya, pecayalah bahwa hanya sekedar ilmu saja tidak bisa menyelamatkanmu,

Sebagai contoh, andai saja seseorang yang gagah pemberani dan ahli strategi perang, mempunyai 10 pedang samurai yang tajam serta senjata lain, kemudian ia diserang seekor singa yang besar dan menakutkan, apakah dia bisa melawan singa itu tanpa menggunakan senjata atau mengayunkan pedangnya? Sudah pasti tidak akan bisa tanpa perlawanan dengan menggunakan atau mengayunkan senjata dan pedangnya, begitu pula saat seseorang membaca dan mempelajari seratus masalah keilmuan dan ia tidak mengamalkannya, akan sia-sia belaka.

Contoh lain, apabila seseorang terjangkit penyakit demam atau liver, dan dia tau bahwa obatnya adalah sakanjabin* dan kasykab* , apakah dia bisa sembuh tanpa meminumnya? Jawabannya pasti tidak!

Sperti perkataan sya’ir :

لو كلت ألفي رطل خمر لم تكن # لتصير نشوانا إذا لم تشرب

Andai saja kau menakar duaratus ritil arak tanpa meminumnya, kau tidak akan mabuk

Wahai anakku, bila kau belajar beratus-ratus tahun dan membaca beribu-ribu buku, kau tidak akan mendapat rahmat Allah tanpa mengamalkannya, karna Allah berfirman :

وأن ليس للإنسان إلا ما سعى .( النجم : 39 ) فمن كان يرجو لقاء ربه فليعمل عملا صلحا .( الكهف : 110 ) جزاء بما كانوا يكسبون .( التوبة :82 ) إن الذين ءامنوا وعملوا الصلحات كانت لهم جنت الفردوس نزلا * خلدين فيها لا يبغون عنها حولا.( الكهف :107,108 ) إلا من تاب و ءامن و عمل صالحا.( الفرقان : 70)

Apa pendapatmu tentang hadist ini :

بني الإسلام على خمس : شهادة أن لا إله إلا الله و أن محمدا رسول الله , و إقام الصلاة , و إيتاء الزكاة , و صوم رمضان و حج البيت من استطاع إليه سبيلا

Islam di bangun atas lima dasar : 1. Mengucapkan syahadat 2. Mendirikan sholat 3.Menunaikan zakat 4.puasa di bulan ramadhan 5. Berhaji bagi yang mampu

Dan iman adalah : perkataan dengan lisan, kepercayaan dengan hati, dan mengamalkan dengan rukun islam

Dan dalil untuk beramal itu tidak terhitung banyaknya, memang benar seseorang itu masuk surga dengan keutamaan dan rahmat allah, akan tetapi semua itu setelah ia melakukan ketaatan dan ibadah, sebab rahmat allah dekat kepada orang-orang yang berbuat baik,

Bila ada yang mengatakan, bahwa seseorang sampai ke surga hanya dengan iman saja, memang benar, akan tetapi pertanyaannya; kapan ia akan sampai? Berapa banyak halauan dan rintangan yang harus ia lewati untuk sampai? Sedang awal dari rintangan itu adalah iman, apakah ia terselamatkan dari dicabutnya iman? Dan apabila sampai, adakah jaminan utuk tidak menjadi orang yang rugi atas semua amalnya?!

Sayyidina Hasan Bashri berkata: kelak di hari kiamat allah berfirman kepada hamba-hambanya : wahai hamba-hambaku, masuklah kalian ke dalam surga dengan rahmatku, dan berbagilah sesuai kadar dari amal kalian.

*sakanjabin = ramuan cuka manis
*kasykab = ramuan terbuat dari gandum
Bersambung ...

"Wahai Anakku" ~ Gus Zah Faid (Episode 2)


Hasan Jufri - Persoalan pernikahan adalah persoalan yang selalu aktual dan selalu menarik untuk dibicarakan, karena persoalan ini bukan hanya menyangkut tabi'at dan hajat dan hidup manusia yang asasi saja, tapi juga menyentuh suatu lembaga luhur dan sentral yaitu rumah tangga luhur karena lembaga ini merupakan benteng bagi pertahanan martabat manusia dari nilai-nilai akhlak yang luhur, sentral karena lembaga ini merupakan pusat bagi lahir dan tumbuhnya bani adam, yang kelak mempunyai peranan kunci dalam mewujudkan kedamaian dan kemakmuran di bumi ini.
 
Dalam konsep Islam bani Adamlah yang memperoleh kehormatan untuk memikul amanah Ilahi sebagai khalifah di muka bumi.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ (البقرة ٣٠)

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". (al Baqarah 30).

Pernikahan bukanlah persoalan kecil dan sepele, tetapi merupakan persoalan penting dan besar. Aqad nikah adalah adalah suatu perjanjian yang kokoh dan suci (Mitsaqan Ghaliza), lihat an Nisa' ayat 21. Konon katanya 'arasy sampai bergetar ketika lafadz ijab qabul ketika dibacakan saking dahsyat dan sakralnya sebuah pernikahan, Karena itu diharapkan semua pihak yang terlibat di dalamnya, khususnya suami istri, memelihara dan menjaganya secara sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.

Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan perkawinan. Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan khitbah, bagaimana mendidik anak, serta memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai kepada proses nafaqah dan waris, semuanya dibahas oleh Islam secara rinci dan runut.

Bersambung ...


Tulisan: Gus Abdul Halim, Lc
Foto: Beliau saat bersama Mahfud Md

Konsep Islam Tentang Pernikahan~Gus Abdul Halim, Lc (Bagian 1)


Hasan Jufri - Saya sempat mendapatkan pendidikan pondok disini, mewakili remaja asal Maluku yg di delegasikan MUI Maluku sebagai program pemulihan remaja konflik Ambon serta Anak Yatim dan kurang mampu saat itu, saya merasakan benar pembangunan pesantren pada pulau terpencil diatas pulau Jawa.

Bahkan di rumah beliau Pak Kiai (Almagfurlah KH. Bajuri Yusuf) bersama Nyai begitu saya sapa, memberikan perhatian khusus kepada saya selaku remaja Ambon. Beliau mendidik saya seakan sebagai anak, belajar-pun bersama Gus Mohammad Najahul Umam yang sekarang ini telah memimpin pesantren Hasan Jufri.

Terima kasih karena telah menanamkan landasan ke-imanan dan ke-ilmuan kepada saya, terima kasih sudah menjadi panutan. Husnul Khatimah Pak Kiai. Amin.


Tulisan: Gadri Attamimi
Foto: Akun Facebook Gadri

Suara Alumni: Konflik Ambon Mengantarkan Gadri ke Bawean


Hasan Jufri - Prestasi membanggakan ditorehkan siswa siswi Madrasah Aliyah ( MA) Hasan Jufri di ajang semifinal Olimpiade Fisika VIII Distrik Bawean yang di selenggarakan oleh Universitas Islam Negeri ( UIN ) Maulana Malik Ibrahim Malang yang bertempat di Aula MA Mambaul Falah kecamatan Tambak, Sabtu 20 Januari 2018.

Diajang tersebut MA Hasan Jufri meraih juara 1, 2 dan 3 dari 41 peserta yang berasal dari seluruh sekolah di pulau Bawean. Sedangkan juara 4 diraih MA Miftahul Huda dan juara 5 SMA Negeri Sangkapura.

Siti Afiyah selaku guru Fisika Madrasah Aliyah Hasan Jufri merasa bangga atas prestasi yang diraih anak didiknya ini. " Alhamdulillah ini prestasi luar biasa, saya berharap bisa kembali meraih prestasi yang gemilang di Malang nanti sehingga bisa mengharumkan nama pulau Bawean umumnya dan Hasan Jufri khususnya" ungkapnya bangga.

Kelima peraih juara ini nantinya akan mengikuti final Olimpiade Fisika VIII Se Jawa Bali yang di gelar di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tanggal 10 Februari 2018 mendatang.


Sumber: www.beritabawean.com

Siswa MA Torehkan Kemenangan Olimpiade Fisika Se-Bawean

 
Hasan Jufri - Meninggal pasca cerai: "Apakah Mantan Isteri/Suami Masih Berhak Jadi Ahli Waris?"
Iya, dalam beberapa kondisi.
Ada S & K berlaku disini.

Syeikh Najib Al-Muthi'i, salah satu ulama Fiqih dari madzhab Syafi'i menjelaskan hal ini dalam Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab (المجموع شرح المهذب) jilid 16 hal 83 :

فمات وهي في العدة أو ماتت قبله في العدة ورث أحدهما صاحبه بلا خلاف أيضا، لان الرجعية حكمها حكم الزوجة

"Jika seorang suami meninggal pada saat isterinya sedang menjalani masa iddah (pasca dicerainya),
Atau jika seorang isteri meninggal duluan saat sedang ber-iddah,
Maka pasangannya yang hidup masih jadi ahli waris bagi yang meninggal.
Tidak ada khilaf (perbedaan pendapat) pula dalam hal ini.
Sebab *status raj'iyyah hukumnya sama dengan status isteri*..."

Kami coba paparkan poin-poin hukum dalam statemen Syeikh Najib Al-Muthi'i diatas:

1. Istri yang habis dicerai oleh suaminya, ia wajib menjalani masa iddah. Jika kemudian suaminya meninggal pada saat istrinya sedang ber-iddah, maka isterinya tetap berhak jadi ahli waris.

2. Suami-istri yang baru saja bercerai, sang istri wajib menjalani masa iddah. Jika istrinya ini meninggal dalam masa iddah, maka suaminya masih berhak jadi ahli warisnya.

3. Dalam hal ini, status Raj'iyyah hukumnya sama dengan status isteri. Raj'iyyah adalah keadaan dimana isteri berada dalam masa iddah dari thalaq raj'i (thalaq 1 atau 2).

4. Maka, jika istri dithalaq, lalu (mantan) suaminya meninggal saat sudah habis masa iddahnya, maka sang isteri tak lagi berhak jadi ahli waris bagi almarhum.

5. Begitu juga sebaliknya. Jika isteri meninggal dunia paska cerai dan masa iddahnya sudah berakhir, maka (mantan) suaminya tak lagi berhak menerima warisan darinya.

6. Sedangkan dalam thalaq 3 (thalaq ba'in bainunah kubro), istri tak wajib menjalani iddah. Sehingga jika salah satunya meninggal pasca thalaq 3, maka (mantan) pasangan yang masih hidup tak bisa jadi ahli warisnya.

Paska thalaq 3, istri memang tidak wajib menjalani masa iddah. Tapi, dia tak boleh langsung menikah lagi dengan lelaki lain sebelum menjalani istibra' (masa tunggu selama masa 1 kali haid).

Wallahu a'lam.
Aini Aryani

NB:
a. Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab ditulis oleh:
- Jilid 1-9 ditulis oleh Al-Imam An-Nawawi.
- Jilid 10-12 ditulis Al-Imam Taqiyuddin As-Subki.
- Jilid 13-27 ditulis oleh Al-Imam Najib Al-Muthi'i.

b. Tulisan diatas adalah jawaban dari pertanyaan jamaah di 'Islam Itu Indah' Trans TV eps 18/1/2018 yang belum sempat saya jawab lengkap, karena terbatasnya durasi.

Semoga bermanfaat🙏
 
 
Tulisan: Neng Aini Aryani
Foto: Beliau saat berkumpul bersama Ayahenda KH. Mufid Helmy

Pasca Cerai, Suami/Istri Meninggal. Bagaimana?


Hasan Jufri - Kita ketahui bahtera rumah tangga memiliki hambatan dan tantangan. Terkadang ada ombak yang menghiasi perjalanan itu. Namun, urungkah niat kita untuk berlayar mengarungi kehidupan rumah tangga itu? Maka nasehat pernikahan bijak mesti menjadi hal yang menguatkan biduk keluarga Islami. Nah berikut nasehat pernikahan Islami dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Kode etik yang harus selalu diingat suami dan istri dalam kehidupan rumah tangga:

1. Allah berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِ

“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita disebabkan Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum pria) di atas sebagian yang lain (kaum wanita) dan disebabkan kaum pria telah membelanjakan sebagian dari harta mereka".

2. Nabi bersabda:
إِنَّمَا النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِّجَالِ، مَا أَكْرَمَهُنَّ إِلَّا كَرِيْمٌ، وَمَا أَهَانَهُنَّ إِلَّا لَئِيْم

"Sesungguhnya perempuan itu saudara kandung laki-laki, Tidaklah memuliakan wanita, kecuali lelaki mulia. Dan yang menghinakan wanita, pastilah lelaki hina.


Tulisan: Gus Abdul Halim, Lc
Foto: Neng Ainun Barakah bersama suami

2 Kode Etik Suami Istri dalam Rumah Tangga



Hasan Jufri - Sayyid Abdullah Bin Alwi Al-Haddad dalam kitabnya " An-Nashoihud Diniyah ", mengemukakan sejumlah kriteria (ciri-ciri) ulama sejati atau yang disebut dengan Ulama Akhirat.

Diantaranya adalah : Dia takut pada Allah SWT, bersikap Zuhud pada dunia, Qona'ah (merasa cukup) dengan rezeki yang sedikit dan menyedahkan harta yang lebih dari kebutuhan dirinya kepada masyarakat, dia suka memberi Nasihat, ber 'amar ma'ruf nahi munkar, dan menyayangi mereka serta suka membimbing kearah kebaikan dan mengajak pada hidayah, bersikap Thawadhu' terhadap masyarakat, berlapang dada dan tidak Thoma' (mengharap-harap) pada apa yang ada pada masyarakat, serta tidak mendahulukan orang kaya daripada orang miskin.

Dia selalu bergegas dalam menjalankan kebaikan, tidak kasar sikapnya, hatinya tidak keras dan akhlaqnya baik, penampilannya tenang tidak tergesa-gesa, dan tidak banyak bicara. Kepada penguasa tidak mondar-mandir mendatanginya, tidak silau, tidak diam jika melihat kemungkaran yang dilakukan penguasa jika dia mampu. Tidak mencintai popularitas, harta dan kekuasaan, bahkan dia tidak menyukai itu semua kecuali karena sesuatu yang dharurat.

Semoga Ulama-ulama yang kita ikuti, sesuai dengan ciri-ciri Ulama yang disampaikan oleh Sayyid Abdullah Bin Alwi Al-Haddad diatas, yang mengikuti Akhlaq Rasulullah dan termasuk dari golongan Ahlussunnah Wal Jama'ah... Amin

Wallahu A'lamu Bisshowab.

Tulisan: Gus Abdul Halim, Lc
 Foto: Alm. Almaghfurlah KH. Bajuri Yusuf saat bersama KH. Tengku Zulkarnain






Ciri-ciri Ulama' Sejati Versi Nasho'ihud Diniyyah



"WAHAI ANAKKU" Bagian 1

Diceritakan, bahwa ada seorang murid yang menghabiskan umur mudanya untuk berguru kepada Imam Ghazali, sehingga ia menguasai berbagai disiplin ilmu dan pengetahuan agama.

Suatu ketika saat semua hal dari ilmu itu terkumpul, ia merenung tentang keadaan dirinya, ia tampak gelisah dan bertanya-tanya; aku telah mempelajari semua jenis disiplin ilmu dan umur ini ku habiskan untuk mengumpulkan semuanya, aku harus tahu, ilmu yang mana yang bermanfaat untukku dan menenangkanku kelak di kuburku?!, terbesit dalam benaknya suatu hadist :
اللهم إني أعوذ بك من علم لا ينفع

Ia terlarut-larut dalam kegelisahan itu, sehingga ia memutuskan untuk menulis sepucuk surat yang di tujukan kepada gurunya guna bertanya dan meminta saran dan nasehat, walapun ia tahu bahwa jawaban dari kegundahannya terdapat di dalam karangan-karangan gurunya seperti "Ihya Ulumuddin" dan yang lainnya, akan tetapi ia ingin mendapat balasan saran dan nasehat langsung, untuk di jadikan pedoman dalam sisa umurnya dan mendampinginya sampai ajal menjemput.

Kemudian balasan surat dari sang guru yang di tunggu-tunggu pun datang dan sampai di tangannya,
Dengan penuh riang dan gembira ia mulai membaca dan menyimak kalimat demi kalimat yang tersusun rapi, bermula dengan kata :

WAHAI ANAKKU

Bersambung ...

"Wahai Anakku" ~ Gus Zah Faid (Episode 1)


Hasan Jufri -  Praktik Kerja Lapangan (PKL) adalah salah satu bentuk emplementasi secara sistematis dan sinkron antara program pendidikan di sekolah/perguruan tinggi dengan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan kerja secara langsung di dunia kerja untuk mencapai tingkat keahlian tertentu.

Pada angkatan tahun ini, Sekolah Tinggi Agama Islam Hasan Jufri (STAIHA) Bawean pertama kalinya bisa melaksanakan program PKL di luar negeri yakni di Malaysia. Hal ini tidak luput dari kerjasama antara STAIHA dan pihak stake holder sekolah di Malaysia.


Empat mahasiswa yang melaksanakan praktek di salah satu sekolah di Malaysia adalah dari jurusan/program studi Manajemen Pendidikan Islam. Mereka terpilih sebagai mahasiswa pertama yang magang di luar negeri dari semenjak berdirinya kampus hijau STAIHA.

Praktek Kerja Lapangan ini bertujuan agara mahasiswa bisa mengaplikasikan materi yang telah diperoleh di kampus menjadi ilmu nyata dalam praktek keseharian kita. Suka duka tentu ada dalam kegiatan PKL ini karena waktu pelaksanaanya memakan waktu selama satu bulan/30 hari.


Moh. Nizar, bercerita bahwa dia bersama tiga temannya PKL di Sekolah Rendah Islam Assaidiyah di Seremban Negeri Sembilan Malaysia. Sekolah ini adalah sekolah pendidikan dasar yang jumlah siswanya lumayan banyak. Selama hampir 2 minggu ini Nizar telah melaksanakan praktek di negeri orang. Semoga barokah dan sukses, pungkasnya via telfon Whatsapp.

Perdana, Mahasiswa STAIHA Magang di Malaysia



Hasan Jufri - Versi Wikipedia, Ilmu Faraid adalah ilmu yang diketahui dengannya siapa yang berhak mendapat waris dan siapa yang tidak berhak, dan juga berapa ukuran untuk setiap ahli waris.

Menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, definisi ilmu al-faraidh yang paling tepat adalah apa yang disebutkan Ad-Dardir dalam Asy-Syarhul Kabir (juz 4, hal. 406), bahwa ilmu al-faraidh adalah: “Ilmu yang dengannya dapat diketahui siapa yang berhak mewarisi dengan (rincian) jatah warisnya masing-masing dan diketahui pula siapa yang tidak berhak mewarisi.”

Pokok bahasan ilmu al-faraidh adalah pembagian harta waris yang ditinggalkan si mayit kepada ahli warisnya, sesuai bimbingan Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula mendudukkan siapa yang berhak mendapatkan harta waris dan siapa yang tidak berhak mendapatkannya dari keluarga si mayit, serta memproses penghitungannya agar dapat diketahui jatah/bagian dari masing-masing ahli waris tersebut.

Dasar pijakannya adalah Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah n, dan ijma’. Adapun Al-Qur’an, maka sebagaimana termaktub dalam Surah An-Nisa’ ayat 11, 12, dan 176.

Di pondok pesantren Hasan Jufri sendiri pelajaran Faro'id menjadi kajian santri tingkat Aliyah yang dipelajari setiap ba'da isyak. Tidak hanya itu, pelajaran faroid juga menjadi muatan lokal di sekolah formal yaitu pada Madrasah Aliyah Jurusan Keagamaan.

Melestarikan Ilmu Faro'id yang Hampir Punah


Hasan Jufri - Sebaik-baik hari bagi umat Islam dalam sepekan adalah hari Jum’at. Ialah sayyidul ayyaam (pemimpin hari) yang paling agung dan paling utama di sisi Allah Ta’ala. Banyak ibadah yang dikhususkan pada hari itu, misalnya membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan pada shalat Subuh, membaca surat Al-Kahfi, shalat Jum’at berikut amalan-amalan yang menyertainya, dan amal ibadah lain yang sangat dianjurkan sekali pada hari Jum’at.

Di dalamnya juga terdapat satu waktu di mana doa begitu mustajab; dijanjikan akan dikabulkan. Tidaklah seorang hamba yang beriman memanjatkan do’a kepada Rabbnya pada waktu itu kecuali  Allah akan mengabulkannya selama tidak berisi pemutusan silaturahmi dan tidak meminta yang haram. Karenanya seorang muslim selayaknya memperhatikan dan memanfaatkan waktu yang berbarakah ini.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah membicarakan tentang hari Jum’at lalu beliau bersabda,

« فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ يُصَلِّى يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ »

“Pada hari  itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim shalat berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya, -yang kami pahami- untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat singkat).” (HR. Bukhari nomor 893 dan Muslim nomor 852)

Hadits ini berkaitan dengan salah satu keutamaan hari Jum’at di mana pada hari tersebut Allah akan mengabulkan doa orang yang meminta kepada-Nya. Doa yang dipanjatkan pada saat itu mustajab (mudah dikabulkan) karena bertepatan dengan waktu pengabulan doa.
Tetapi para ulama berbeda pendapat tentang waktu dikabulkannya doa pada hari Jum’at ini. Sampai-sampai Ibnu Hajar[3] dan Asy-Syaukani menyebutkan empat puluh tiga pendapat beserta argument masing-masingnya.

Dari kesemuanya, pendapat yang paling kuat tentang waktu mustajab pada hari Jum’at ini ada dua; yaitu pertama, sejak duduknya imam di atas mimbar hingga shalat selesai, dan kedua, di akhir waktu setelah shalat Ashar.

Tentang hal ini, Ibnu Hajar berkomentar, “Tidak diragukan lagi bahwa pendapat yang paling kuat adalah hadits Abu Musa (sejak duduknya imam di atas mimbar hingga shalat selesai) dan hadits Abdullah bin Salam (akhir waktu setelah shalat Ashar).” Muhibb Ath-Thabari juga berkata, “Hadits yang paling shahih adalah hadits Abu Musa, dan pendapat yang paling masyhur adalah pendapat Abdullah bin Salam. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah juga berkata, “Pendapat yang paling kuat adalah dua pendapat yang dituntut oleh hadits-hadits yang tsabit, dan salah satunya lebih kuat daripada yang lain.”Dari sinilah kemudian para ulama salaf berbeda pendapat manakah dari keduanya yang lebih kuat.

Berikut ini uraian lebih rinci tentang kedua pendapat tersebut :

Pendapat pertama : waktu mustajab itu dimulai sejak duduknya imam di atas mimbar sampai shalat selesai. Hujjah dari pendapat ini adalah hadits Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari, dia bercerita, “Abdullah bin Umar pernah berkata kepadaku, ‘Apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai satu waktu yang terdapat pada hari Jum’at?’ Aku (Abu Burdah) menjawab, “Ya, aku pernah mendengarnya berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ

“Saat itu berlangsung antara duduknya imam sampai selesainya shalat.” (HR. Muslim nomor 853 dan Abu Dawud nomor  1049 ).

Pendapat kedua : waktu mustajab berada di akhir waktu setelah shalat Ashar.

Hadits yang menerangkan hal ini cukup banyak, di antaranya :

1. Hadits Abdullah bin Salam

Abdullah bin Salam berkata, “Aku berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapatkan di dalam Kitabullah bahwa pada hari Jum’at terdapat satu saat yang tidaklah seorang hamba mukmin bertepatan dengannya lalu berdoa memohon sesuatu kepada Allah, melainkan akan dipenuhi permintaannya.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan dengan tangannya bahwa itu hanya sesaat. Kemudian Abdullah bin Salam bertanya,‘kapan saat itu berlangsung?’ beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Saat itu berlangsung pada akhir waktu siang.” Setelah itu  Abdullah bertanya lagi, ‘Bukankah saat itu bukan waktu shalat?’ beliau menjawab,

بَلَى إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا صَلَّى ثُمَّ جَلَسَ لَا يَحْبِسُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ فَهُوَ فِي الصَّلَاة

“Benar, sesungguhnya seorang hamba mukmin jika mengerjakan shalat kemudian duduk, tidak menahannya kecuali shalat, melainkan dia berada di dalam shalat.” (HR. Ibnu Majah nomor 1139, dan Syaikh Al-Albani menilainya hasan shahih).

2. Hadits Abu Hurairah

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, “Suatu ketika saya keluar menuju sebuah bukit, lalu saya berjumpa dengan Ka’ab Al-Ahbar, maka saya pun duduk-duduk bersamanya. Lantas, ia menceritakan perihal kitab Taurat kepada saya, dan saya pun menceritakan perihal Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam kepadanya.

Di antara perkara yang saya ceritakan kepadanya ialah, ketika itu saya mengatakan, bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Sebaik-baik hari yang disinari matahari ialah hari Jum’at –sampai pada sabda beliau- ‘Di dalamnya terdapat satu waktu, tidaklah seorang muslim melakukan shalat bertepatan dengan waktu tersebut, lalu ia memohon sesuatu kepada Allah melainkan Allah akan mengabulkan permintaannya itu.”

Ka’ab berkata, ‘Apakah yang demikian itu berlangsung satu hari dalam setahun?’, maka, saya menjawab, ‘Bukan, tetapi dalam setiap hari Jum’at.’ Lantas, Ka’ab pun membaca kitab Taurat, lalu ia berkata, ‘Rasulullah benar’

Abu Hurairah melanjutkan, “Lalu saya berjumpa dengan Bashrah bin Abu Bashrah Al-Ghifari. Lantas, ia bertanya kepada saya. ‘Dari mana Anda tadi?’ saya menjawab, ‘Dari sebuah bukit’ maka ia berkata, ‘Kalau saja saya berjumpa dengan Anda sebelum Anda keluar ke sana, maka saya tidak akan keluar. Saya mendengar Rasulullah bersabda, “Tidak boleh bepergian (dalam rangka beribadah) kecuali ke tiga masjid: masjidil Haram, masjidku ini (masjid Nabawi), dan masjid Elia (masjil Aqsha di Baitul Maqdis). Ia ragu.’

Abu Hurairah berkata, “Saya kemudian berjumpa dengan Abdullah bi Salam. Maka saya pun menceritakan perihal perbincangan saya dengan Ka’ab Al-Ahbar kepadanya, dan mengenai apa yang saya ceritakan kepadanya tentang hari Jum’at.”

Saya –Abu Hurairah- berkata, “Ka’ab mengatakan bahwa yang demikian itu terjadi satu hari dalam setahun.”

Abu Hurairah melanjutkan, “Abdullah bin Salam berkata, ‘Ka’ab telah berbohong.’, lalu saya mengatakan, ‘Kemudian Ka’ab membaca kitab Taurat, dan berkata, ‘Ya, benar, yang dimaksud ialah pada setiap hari Jum’at.’ Maka, Abdullah bin Salam berkata, ‘Ka’ab benar.’ Selanjutnya, Abdullah bin Salam mengatakan, ‘Sesungguhnya saya mengetahui persis mengenai waktu yang dimaksud itu?’

Abu Hurairah berkata, “Saya berkata kepadanya, ‘Beritahukan kepada saya tentang waktu itu, dan jangan sekali-kali kamu menyembunyikannya terhadap saya.’ Maka, Abdullah bin Salam berkata, ‘Waktu yang dimaksud adalah waktu yang akhir pada setiap hari Jum’at.’

Abu Hurairah berkata, “Lantas, saya bertanya, ‘Bagaimana mungkin kalau waktu yang dimaksud ialah saat-saat yang terakhir pada hari Jum’at, sementara Rasulullah sendiri telah bersabda, “Tidaklah seorang muslim menjumpainya, di kala ia sedang melakukan shalat…; sementara waktu yang kamu sebutkan itu ialah waktu yang tidak boleh melakukan shalat?’

Lantas, Abdullah bin Salam menjawab,

أَلَمْ يَقُلْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ جَلَسَ مَجْلِسًا يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ فَهُوَ فِى صَلاَةٍ حَتَّى يُصَلِّىَ »

‘Bukankah Rasulullah juga telah bersabda, ‘Barangsiapa yang duduk pada suatu majelis sambil menunggu-nunggu shalat, maka ia itu berada dalam kondisi melakukan shalat hingga ia benar-benar melaksanakan shalat?’.”

Abu Hurairah berkata, “Saya berkata, ‘Ya, tentu.’ Abdullah bin Salam berkata, ‘Ya, itulah waktu yang dimaksud’.” (HR. Abu Dawud nomor 1046, At-Tirmidzi nomor  491, dan Abu Isa berkomentar hadits hasan shahih, sedangkan Al-Albani berkomentar hadits shahih.).

3. Hadits Jabir bin Abdillah

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

Dari Jabir bin Abdillah, dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Hari Jum’at adalah dua belas jam. Di dalamnya terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim memohon sesuatu kepada Allah pada saat itu, melainkan Allah akan mengabulkannya. Maka carilah ia pada saat-saat terakhir setelah shalat Ashar.”  (HR. An-Nasa’I nomor 1388).

Dari dua pendapat ini, pendapat yang terkuat adalah pendapat kedua. Inilah pendapat mayoritas ulama. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa pendapat ini dianut oleh Abdullah bin Salam, Abu Hurairah, Imam Ahmad dan yang lainnya. Lebih lanjut, Ibnul Qayyim berkata, “Saat mustajab berlangsung pada akhir waktu setelah Ashar yang diagungkan oleh seluruh pemeluk agama. Menurut Ahli Kitab, ia merupakan saat pengabulan. Inilah salah satu yang ingin mereka ganti dan merubahnya. Sebagian orang dari mereka yang telah beriman mengakui hal tersebut.”

Sekalipun pendapat kedua lebih kuat, beberapa ulama tetap menganggap bahwa pendapat pertama juga perlu diakui keabsahannya. Oleh karenanya mereka berusaha mengambil jalan tengah dengan menggabungkan kedua pendapat di atas. Tetap melazimi berdoa pada kedua waktu tersebut.

Imam Ahmad berkata, “Mayoritas hadits tentang waktu yang diharapkan terkabulnya doa menunjukkan bahwa itu terjadi setelah Ashar, tetapi juga diharapkan setelah tergelincirnya matahari (setelah imam berdiri untuk berkhutbah pen.).”

Ibnu Abdil Barr berkata, “Semestinya yang dilakukan seorang muslim adalah bersungguh-sungguh memanjatkan doa kepada Allah untuk kebaikan agama dan dunia pada dua waktu yang telah disebutkan karena berharap dikabulkan. Karena doa itu tidak akan sia-sia, insyaAllah. Sungguh benar perkataan Ubaid bin Abrash yang mengatakan, “Siapa yang meminta kepada manusia, mereka akan menolaknya, dan siapa yang meminta Allah, pintanya tidak akan sia-sia.” Bahkan, Ibnul Qayyim yang menguatkan pendapat kedua pun, beliau tetap menekankan agar setiap muslim tetap membiasakan berdoa pada waktu shalat. Katanya, “Menurut hemat saya, waktu shalat juga merupakan waktu yang diharapkan terkabulkannya doa. Jadi, keduanya merupakan waktu mustajab meskipun satu waktu yang dikhususkan di sini adalah akhir waktu setelah shalat Ashar. Sehingga ia merupakan waktu yang telah diketahui secara pasti dari hari Jum’at; tidak maju dan tidak mundur. Adapun waktu shalat, ia mengikuti shalat itu sendiri; maju atau mundurnya. Sebab, dengan berkumpulnya kaum muslimin, shalat, kekhusyukan, dan munajat mereka kepada Allah memiliki dampak dan pengaruh yang sangat besar untuk dikabulkan. Karena, ketika kaum muslimin sedang berkumpul sangat diharapkan sekali doa terkabulkan.” Selanjutnya Ibnul Qayyim berkesimpulan, “Dengan demikian, semua hadits yang disebutkan di atas sesuai dan berkaitan. Rasulullah menganjurkan umatnya untuk senantiasa memanjatkan doa dan bermunajat kepada Allah pada dua waktu dan masa ini.”

Hal ini juga diikuti oleh Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah sebagaimana yang dinukil oleh DR. Sa’id bin Ali al Qahthan dalam Shalâtul Mukmin. Syaikh Ibnu Bazz berkata, “Hal itu menunjukkan bahwa sudah sepantasnya bagi orang muslim untuk memberikan perhatian terhadap hari Jum’at. Sebab, di dalamnya terdapat satu saat yang tidaklah seorang muslim berdoa memohon sesuatu bertepatan dengan saat tersebut melainkan Allah akan mengabulkannya, yaitu setelah shalat Ashar. Mungkin saat ini juga terjadi setelah duduknya imam di atas mimbar. Oleh karena itu, jika seseorang datang dan duduk setelah Ashar menunggu shalat Maghrib seraya berdoa, doanya akan dikabulkan. Demikian halnya jika setelah naiknya imam ke atas mimbar, seseorang berdoa dalam sujud dan duduknya maka sudah pasti doanya akan dikabulkan.”

Jadi, mari tetap memuliakan dua waktu tersebut dengan banyak-banyak berdoa, karena doa kita pasti dikabulkan, entah kapan; diijabahi langsung, atau dihindarkan dari bahaya yang setara dengan doanya, atau sebagai penghapus dosa, atau menjadi simpanan di akhirat kelak. Wallahu A’lam bish Shawab.

Disadur dari berbagai sumber.

Jangan Remehkan Waktu Mustajab Berdo'a di Hari Jum'at

 
** Ustazdah, jika kita bernazdar, apakah nazdar tersebut harus dilaksanakan?

•• tergantung jenis nazdarnya
** memang ada berapa jenis nazdar?
•• ada dua, yaitu nazdar Lajaj, dan nazdar tabarrur/mujazah, jika jenisnya lajaj maka orang yang bernazdar boleh memilih antara melaksanakan nazdar, atau menebus kaffarat yamiin (sumpah) yaitu salah satu dari tiga hal berikut:
- memerdekakan budak muslim
- memberi makan 10 org miskin masing-masing satu mud dan memberi mereka baju
- berpuasa tiga hari.

Untuk nazdar tabarrur tidak ada pilihan selain melaksanakan apa yang dinazdari.

** seperti apa nazdar lajaj dan tabarrur itu?

•• lajaj itu adalah nazdar yang berkaitan dengan motivasi untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, seperti :
-Jika aku tidak merokok lagi maka aku bernazdar akan bersedekah 500 ribu.
- jika aku makan jengkol aku bernazdar akan bersedekah 250 ribu.

Adapun nazdar tabarrur itu berkaitan dengan niat qurbah (pedekate 😀) kepada Allah SWT baik dengan atau tanpa sebab tertentu, seperti :
- saya bernazdar shalat tahajjud 200 rakaat.
- jika saya sembuh maka saya bernazdar akan berumrah pada bulan Ramadhan tahun ini.

** apakah harus menggunakan lafazd nazdar ?
•• kalimat saya bernazdar adalah kalimat yang sharih (jelas) dari nazdar, adapun lafazd-lafazd yang lain yang menyiratkan tanggungan/keharusan harus disertai niat, jika diniatkan sebatas sumpah maka jatuh sumpah(yamiin) dalam hal ini pembahasan ulama panjang lebar dan ada sedikit khilaf.

Catatan :
1. Nazdar harus dilafazdkan
2. Obyek Nazdar adalah sesuatu mustahab/sunah, fardhu kifayah juga boleh, bukan yg wajib ain,bukan pula perkara mubah apalagi makruh dan haram.

Wallahu a'lam.
 
Sumber: Neng Ainun Barakah.

Hukum Seputar Nadzar/Janji

 
Hasan Jufri - Maulid Simtud Durar merupakan kitab maulid yang cukup agung yang dibaca oleh umat muslim di seluruh dunia khususnya yang dibawa dari bani alawy yaitu para habaib yang berdakwah menyebar keseluruh dunia. Banyak keistimewaan dan keberkahan dalam Maulid ini.

Berikut dikisahkan dari buku biografi Habib Ali Al Habsy tentang penulisan kitab mulia ini.

Ketika usia Habib ‘Ali menginjak 68 tahun, ia menulis kitab maulid yang diberinya nama Simtud Durar.


Pada hari Kamis 26 Shafar 1327 H, Habib ‘All mendiktekan paragraf awal dari Maulid Simtud Durar setelah memulainya dengan bacaan basmalah:


Ia kemudian memerintahkan agar tulisan itu dibacakan kepada beliau. Setelah pendahuluan yang berupa khutbah itu dibacakan, beliau berkata, “Insya Allah aku akan segera menyempurnakannya. Sudah sejak lama aku berkeinginan untuk menyusun kisah maulid. Sampai suatu hari anakku Muhammad datang menemuiku dengan membawa pena dan kertas, kemudian berkata kepadaku, ‘mulailah sekarang.’ Aku pun lalu memulai-nya.” Kemudian dalam majelis lain beliau mendiktekan maulidnya:


Pada hari Selasa, awal Rabi’ul Awwal 1327 H, ia memerintahkan agar maulid yang telah beliau tulis dibaca. Beliau membukanya dengan Fatihah yang agung. Kemudian pada malam Rabu, 9 Rabi’ul Awwal, beliau mulai membaca maulidnya di rumah beliau setelah maulid itu disempurnakan. Beliau berkata, “Maulid ini sangat menyentuh hati, karena baru saja selesai diciptakan.”


Pada hari Kamis, 10 Rabi’ul Awwal beliau menyempurnakan-nya lagi. Pada malam Sabtu, 12 Rabi’ul Awwal 1327 H, ia membaca maulid tersebut di rumah muridnya, Sayyid ‘Umar bin Hamid as-Saggaf. Sejak hari itu Habib ‘Ali kemudian membaca maulidnya sendiri: Simtud Durar. Sebelumnya ia selalu membaca maulid ad-Diba’i.


Maulid Simtud Durar yang agung ini kemudian mulai tersebar luas di Seiwun, juga di seluruh Hadhramaut dan tempat-tempat lain yang jauh. Maulid ini juga sampai ke Haramain yang mulia, Indonesia, Afrika, Dhafar dan Yaman. Disebutkan bahwa maulid Simtud Durar pertama kali dibaca di rumah Habib ‘Ali, kemudian di rumah muridnya, Habib ‘Umar bin Hamid. Para sahabat beliau kemudian meminta agar Habib ‘All membaca maulid itu di rumah-rumah mereka. Ia berkata kepada mereka, “Selama bulan ini, setiap hari aku akan membaca Maulid Simtud Durar di rumah kalian secara bergantian.


Tanggal 27 Sya’ban 1327 H, Sayyid Hamid bin ‘Alwi Al-Bar akan pergi ke Madinah Al-Munawwarah membawa satu naskah maulid Simtud Durar yang akan dibacanya di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu (alaihi wa sallam akan merasa sangat senang.

Habib Ali RA berkata:


Dakwahku akan tersebar ke seluruh wujud. Maulidku ini akan tersebar ke tengah-tengah masyarakat, akan mengumpul-kan mereka kepada Allah dan akan membuat mereka dicintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Jika seseorang menjadikan kitab maulidku ini sebagai salah satu wiridnya atau menghafalnya, maka rahasia (sir) Al-Habib shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tampak pada dirinya. Aku yang mengarangnya dan mendiktekannya, namun setiap kali kitab itu dibacakan kepadaku, dibukakan bagiku pintu untuk berhubungan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pujianku kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat diterima oleh masyarakat.


Ini karena besarnya cintaku kepada Nabi shallallahu alaihiwa sallam. Bahkan dalam surat-suratku, ketika aku menyifatkan Nabi shallaltahu ‘alaihi wa sallam, Allah SWT membukakan kepadaku susunan bahasa yang tidak ada sebelumnya. Ini adalah ilham yang diberikan Allah SWT kepadaku. Dalam surat menyuratku ada beberapa sifat agung Nabi shallaahu ‘alaihi wa sallam, andaikan Nabhani membacanya, tentu ia akan memenuhi kitab-kitabnya dengan sifat-sifat agung itu.


Munculnya Maulid Simtud Durar di zaman ini akan menyempurnakan kekurangan orang-orang yang hidup di zaman akhir. Sebab, tidak sedikit pemberian Allah SWT kepada orang-orang terdahulu yang tidak dapat diraih oleh orang-orang zaman akhir, tapi setelah maulid ini datang, ia akan menyempurnakan apa yang telah terlewatkan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai maulid ini.


Maulid Hari Kamis Akhir Bulan Rabi’ul Awwal


Suatu hari, Habib Abdul Qadir bin Muhammad bin Ali Al-Habsyi, cucu penulis Simtud Durar berpidato:

“Wahai saudara-saudaraku. Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang agung dan karunia yang besar ini. Allah SWT bermurah kepada kita sehingga kita dapat mengadakan acara agung yang dahulu diselenggarakan sendiri oleh penulis kitab Maulid ini, pendiri acara yang agung ini sejak 90 tahun yang lalu. Acara itu dihadiri oleh masyarakat dari berbagai daerah. Ada yang datang dari Hijaz, Dhafar, Sawahil dan negara-negara lainnya. Ada yang memperkirakan, jumlah orang yang menghadiri maulid tersebut sekitar 30.000 orang.


Habib Ali membiayai keperluan mereka semua dan beliau juga mengurus jamuan dan kendaraan mereka. Sebab, saat itu tidak ada mobil atau pesawat. Semua orang datang dengan mengendarai onta dan kendaraan lain. Beberapa orang dan pegawai pemerintah mengkhawatirkan hal ini, “Wahai Habib Ali, manusia berdatangan dari segenap penjuru, bagaimana pembiayaannya” Habib Ali menjawab, “Kalian sambut saja mereka, bukalah rumah kalian untuk mereka, Allah nanti yang akan memberi mereka rezeki, bukan aku atau kalian. Bukalah rumah kalian untuk mereka, aku akan menyediakan segala sesuatunya kepada kalian. Jika ada yang kekurangan, pergilah ke tempat fulan dan fulan.” Beliau menyebutkan beberapa nama sehingga mereka dapat mendatangi orang-orang itu untuk mengambil semua yang diperlukan.


Maulid yang agung ini dihadiri oleh para munshib, dai dan ulama yang berasal dari berbagai daerah. Mereka semua berkumpul sehingga turunlah madad, kebaikan, keberkahan dan nafahat yang agung. Para munshib datang dengan rombongan hadhrah mereka: ada yang dari Syihr, Ghail dan dari berbagai tempat lain. Kota Seiwun dipadati oleh manusia sebagaimana dikatakan oleh Habib ‘Ali:

Seiwun memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh kota-kota lain.


Menjelang hari Kamis terakhir bulan Rabi’ul Awwal, para buruh meminta ijin dari majikan mereka untuk tidak masuk kerja. Pernah seorang buruh ditanya mengapa harus libur, ia menjawab: Wahai Habib, ketahuilah, waktuku setahun berlalu begitu saja; sia-sia. Sekarang yang kumiliki tinggal dua hari ini saja, yaitu hari-hari pembacaan maulid. Nanti, ketika manusia telah berkumpul di lembah itu, Habib ‘Ali akan berdiri dan menyeru orang-orang ke jalan Allah SWT, mengajak mereka bertobat dan mendoakan mereka, maka semua dosa dari orang-orang yang berkumpul di situ pasti diampuni.

‘Ammi ‘Umar bin Hasan Al-Haddad berkata, “Perhatikanlah, bagaimana kaum awam dapat menemukan sir.”


Wallahu A`lam...


Fadilah Simtuddhuror, Bacaan Rutin Malam Jum'at